Jumat, 23 Juli 2010

askep ulkus peptikum

A. Konsep Medis
1. Defenisi
a. Ulkus peptikum adalah putusnya kontinuitas mukosa lambung yang meluas sampai di bawah epitel (Sylvia A. Price, Lorrane M. Wilson, 2006, hal.423).
b. Ulkus peptikum adalah ekskavasi (area berlubang) yang terbentuk dalam dinding mukosa lambung, pylorus, duodenum, atau esophagus (Brunner and Suddarth, hal.1064).
c. Ulkus peptikum adalah luka berbentuk bulat atau oval yang terjadi karena lapisan lambung atau usus dua belas jari (duodenum) telah termakan oleh asam lambung dan getah pencernaan (www.indonesia sehat,2001.com).
2. Etiologi
Ulkus peptikum biasa disebabkan oleh :
a. Helicobacter Pylori (H.Pylori)
b. Penurunan produksi mukus
c. Kelebihan asam
d. Obat-obatan (aspirin)
e. Stress, emosi
3. Manifestasi Klinis
a. Ulkus Duodenal
1) Hipersekresi asam lambung
2) Pasien dapat mengalami penambahan berat badan
3) Nyeri terjadi 2-3 jam setelah makan
4) Sering terbangun dari tidur antara jam 1dan2 pagi
5) Hemogragi jarang terjadi dibandingkan ulkus lambung tetapi, bila ada melena lebih umum dari pada hematemesis.
b. Ulkus lambung
1) Normal sampai hisposekresi asam
2) Penurunan berat badan
3) Nyeri terjadi ½ - 1 jam setelah makan
4) Jarang terjadi pada malam hari, dapat hilang dengan mutah.
5) Konstipasi dan pendarahan
4. Patofisiologi
Ulkus peptikum terjadi terutama pada mukosa gastroduodenal karena jaringan ini tidak dapat menahan kerja asam lambung pencernaan (asam hidroklorida) dan pepsin. Erosi yang terjadi berkaitan dengan peningkatan konsentrasi dan kerja asam-pepsin, atau berkenaan dengan penurunan pertahanan normal dari mukosa. Mukosa yang rusak tidak dapat mensekresi mukus yang cukup untuk bertindak sebagai barier terhadap asam klorida.
Sekresi lambung terjadi pada tiga fase yang serupa :
a) Sefalik
b) Lambung
c) Usus
Karena fase ini interaktif dan tidak saling tergantung satu sama lain, gangguan salah satu fase dapat menjadi ulserogenik.
a. Fase Sefalik (Psikis)
Fase ini dimulai dengan rangsangan seperti pandangan, bau atau rasa makanan yang bekerja pada reseptor kortikal sereberal yang pada gilirannya, merangsang saraf vogal.
b. Fase Lambung
Pada fase ini asam lambung dilepaskan sebagai akibat rangsangan kimiawi dan mekanis terhadap reseptor di dinding lambung. Refleks vagal menyebabkan sekresi asam sebagai respons terhadap distensi lambung oleh makanan.
c. Fase Usus
Makanan dalam usus halus menyebabkan pelepasan hormon (dianggap menjadi gastrin), yang pada waktunya akan merangsang sekresi asam lambung.
Barier Mukosa lambung. Pada manusia, sekresi lambung adalah campuran mukosa polisakarida dan mukoprotein yang disekresi secara kontinyu melalui kelenjar mukosal. Mukus ini mengabsorsi pepsin dan melindungi mukosa terhadap asam. Asam hidroklorida disekresi secara kontinyu, tetapi sekresi meningkat karena mekanisme neurogenik dan hormonal yang dimulai oleh rangsangan lambung dan usus. Bila asam hidroklorida tidak dibuffer dan dinetralisir, dan bila lapisan luar mukosa tidak memberikan perlindungan, asam klorida bersamaan dengan pepsin akan merusak lambung. Asam hidroklorida kontak hanya dengan sebagian kecil permukaan mukosa lambung, kemudian menyebar ke dalamnya dengan lambat. Mukosa yang tidak dapat dimasuki disebut barier mukosa lambung. Barier ini adalah pertahanan utama lambung terhadap pencernaan yang dilakukan oleh sekresi asam lambung itu sendiri. Faktor lain yang mempengaruhi pertahanan mukosa adalah suplai darah, keseimbangan asam basa, integritas sel mukosa, dan regenerasi epitel.
Oleh karena itu, seseorang mungkin mengalami ulkus peptikum karena satu dari dua faktor ini :
1) Hipertensi asam-pepsin
2) Kelemahan barier mukosa lambung
Apapun yang menurunkan produksi mukus lambung atau merusak mukosa lambung adalah ulserogenik, salisilat dan obat anti-inflasi non steroid lain, alkohol, dan obat antiinflasi masuk dalam kategori ini.

5. Klasifikasi
a. Ulkus Duodenalis
Merupakan jenis ulkus peptikum yang paling banyak ditemukan, terjadi pada duodenum (usus dua belas jari) yaitu beberapa sentimeter pertama dari usus halus, tepat di bawah lambung.
b. Ulkus Gastrikum
Merupakan jenis ulkus peptikum yang jarang ditemukan, biasanya terjadi disepanjang lengkung atas lambung.
6. Diagnosis penunjang
a. Pemeriksaan fisik dapat menunjukkan adanya nyeri, nyeri tekan epigastrik.
b. Pemeriksaan dengan barium terhadap saluran G1 atas dapat menunjukkan adanya ulkus
c. Endoskopi gastrointestinal atas digunakan untuk mengidentifikasi perubahan inflamasi ulkus dan elesi.
d. Pemeriksaan sekretori lambung merupakan nilai yang menentukan dalam mendiagnosis aklorhidria (tidak terdapat asam hidroklorida dalam getah lambung).
e. Adanya H.Pylori dapat ditentukan dengan biopsy dan histology melalui kultur.
f. Tes pernapasan yang mendeteksi H.Pylori
g. Tes serologis terhadap antibody pada antigen H.Pyliro
7. Penatalaksanaan
a. Medis
1) Antasik untuk menetralkan asam
2) Pemberian antibiotik yang spesifik untuk H.Pylori.
b. Gizi
1) Identifikasi dan penghindaran makanan yang menyebabkan sekresi HA berlebihan
2) Mengupayakan makan 3x sehari makanan biasa, makan sedikit tapi sering tidak diperlukan selama antasida atau penyekat histamine digunakan.
3) Menghindari makanan yang dapat menimbulkan nyeri.
c. Perawatan
1) Penghentian merokok, karena tembakau dapat memperlambat penyembuhan
2) Pendidikan mengenai menghindari alkohol dan kafein.
3) Penatalaksanaan stress, teknik-teknik relaksasi atau sedative.

B. Konsep Keperawatan
1. Pengkajian
Pengkajian data fokus pada klien ulkus peptikum meliputi :
a. Meminta pasien untuk menggambarkan nyeri dan metode yang digunakan untuk menghilangkannya (makanan, antasida). Pasien biasanya menyatakan bahwa nyeri dihilangkan dengan menggunakan antasida, makan makanan, atau dengan muntas.
b. Menanyakan kepada pasien kapan muntah terjadi. Bila terjadi seberapa banyak ?
c. Menanyakan apakah muntah merah terang atau seperti warna kopi.
d. Apakah pasien mengalami defekasi disertai feses berdarah.
e. Selama pengambilan riwayat, perawat meminta pasien untuk menuliskan masukan makanan.
f. Tingkat ketegangan pasien atau keguguran dikaji.
g. Bagaimana pasien mengekspresikan marah, terutama dalam konteks kerja dan kehidupan keluarga.
h. Apakah ada stress pekerjaan ataukah masalah dengan keluarga.
i. Apakah ada riwayat keluarga dengan penyakit ulkus.
j. Melakukan pengkajian tanda vital sebagai indikator anemia (takikardia, hipotensi).
k. Melakukan pemeriksaan feses terhadap darah samar.
l. Melakukan pemeriksaan fisik dan abdomen dipalpasi untuk melokalosasi nyeri tekanan.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri berhubungan dengan efek sekresi lambung pada jaringan yang rusak yang ditandai dengan :
a) Nyeri ulu hati
b) Panas
c) Perih
d) Muntah
b. Ansietas berhubungan dengan koping dan penyakit akut yang ditandai dengan :
a) cemas
c. Kurang pengetahuan tentang pencegahan dan penatalaksanaan kondisi yang ditandai dengan :
a) Makan saat timbul nyeri
b) Konsumsi obat-obatan
c) Diet
Data obyektif :
a) Cemas
b) Muntah
Data Subyektif
a) Nyeri ulu hati
b) Panas
c) Perih
d) Makan saat timbul nyeri
e) Konsumsi obat-obatan
f) Diet
3. Intervensi
a) Nyeri berhubungan dengan sekresi lambung pada jaringan yang rusak.
Tujuan
Nyeri berkurang/hilang
Kriteria
a. Rileks
b. Mampu istirahat dengan tenang
Intervensi Rasional
1) Menghilangkan nyeri dengan obat-obatan.
2) Anjurkan klien untuk selalu dalam suasana rileks.

3) Anjurkan klien untuk mempelajari teknik relaksasi.
4) Anjurkan untuk menghindari aspirin dan minuman yang mengandung kafein. 1) Obat-obatan dapat membantu menekan rasa nyeri.
2) Posisi rileks dapat menjadi indikator untuk mengurangi rasa nyeri
3) Relaksasi dapat membantu mengendalikan stress dan nyeri.
4) Mencegah timbulnya nyeri akibat efek rangsangan dari aspirin dan kafein.

b) Ansietas berhubungan dengan koping dan penyakit akut
Tujuan yang diharapkan :
Ansietas berkurang
Kriteria :
b) Wajah tampak ceria
c) Tubuh rileks
Intervensi Rasional
1) Anjurkan klien untuk mengungkapkan rasa cemas secara terbuka
2) Yakinkan klien bahwa perawat selalu ada dan siap untuk membantu.
3) Mendorong keluarga pasien untuk berpartisipasi dalam perawatan
4) Tes diagnostic dijelaskan dan obat diberikan sesuai dengan jadwal. 1) Hubungan komunikasi interpesonal.

2) Dapat membantu klien dalam mengatasi masalah

3) Dorongan dari keluarga dapat menumbuhkan semangat ingin sembuh
4) Adanya penyimpangan jadwal atau gangguan dapat menyebabkan ansietas dan meningkatkan sekeresi lambung..

c) Kurang pengetahuan tentang pencegahan dan penatalaksanaan kondisi.
Tujuan yang diharapkan :
Meningkatkan pengetahuan klien tentang cara pencegahan dan kondisi terbaik.
Kriteria :
b) Klien berhenti merokok
c) Klein menyadari pentingnya makan teratur
d) Klien mengetahui makanan dan minuman yang cenderung menyebabkan gejala.
Intervensi Rasional
1) Meningkatkan pengetahuan tentang obat-obatan
2) Meningkatkan pengetahuan klien tentang bahaya merokok

3) Meningkatkan kesadaran klien terhadap tanda dan gejala komplikasi

4) Menambah pemahaman klien entang pengawasan lanjutan, cara mencari bantuan media, dan informasi tentang pembedahan.
1) Klien dapat mengetahui jenis obat yang harus dihindari.
2) Menekan tingkat iritasi pada ulkus dan dapat membantu dalam proses penyembuhan
3) Dapat membantu klien dalam melaporkan tanda dan gejala yang dialami
4) Klien mengetahui tentang cara mencari bantuan apabila gejala berulang dan klien berusaha menjaga kondisi kesehatannya.




4. Implementasi
Implementasi (pelaksanaan) keperawatan disesuaikan dengan rencana keperawatan (intervensi), menjelaskan setiap tindakan yang akan dilakukan dengan pedoman atau prosedur teknis yang telah ditentukan.
5. Evaluasi
Hasil yang diharapkan yaitu :
a. Bebas dari nyeri diantara makan
b. Sedikit mengalami ansietas dengan menghindari stress
c. Mematuhi program teraupetik
1) Menghindari makanan dan minuman yang mengiritasi
2) Makan dengan jadwal teratur
3) Meminum obat yang diresepkan sesuai jadwal.
4) Menggunakan mekanisme koping untuk mengatasi stress
d. Tidak mengalami komplikasi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar