Jumat, 23 Juli 2010

askep DHF

A. PENGERTIAN
Penyakit deman akut yang disebabkan oleh 4 serotipe virus dengue dan ditandai dengan 4 gejala krisis uatam yaitu: demam yang tinggi, manifestasi pendarahan, hepatomegali dan tanda-tanda kegagalan sirkulasi sampai timbulnya renjatan sebagai akibat dari kebocoran plasma yang dapat menyebabkan kematian. (Soegeng Soegiyanto, Ilmu Penyakit Anak.Diagnosa dan Penatalaksanaan)
Infeksi akut yang disebabkan oleh arbovirus (Arthhropodborn Virus) dan dtularkan melalui gigitan nyamuk aedes (aedes albopictus dan aedes aegypti)(Ngastiyah, Perawatan Anak Sakit).

B. ETIOLOGI
Virus masuk ke dalam tubuh lewat gigitan nyamuk aedes aegypti yang tinggal di dalam rumah atau nyamuk aedes aegypti yang biasa berada di kebun pekarangan rumah. Keduanya bias sama menularkan virus dengue, namun nyamuk aedes aegypti yang paling sering menjadi penularnya.

C. MANIFESTASI
1. Demam yang tinggi mendadak yang berlangsung slama 2-7 hari >39C
2. Pendarahan trauma pada kulit
3. Hepatomegali
4. Anoreksia/ muntah-muntah
5. Nyeri perut, nyeri pada otot dan tulang
6. Sakit kepala
7. Nadi cepat dan lemah (< 20 mmHg)
8. Kulit dingin
9. Anak gelisah
10. Lidah kotor dan susah BAB
D. FAKTOR RESIKO

1. Bermukim di wilayah yang terjangkit DBD
2. Ada tetangga yang terjangkit DBD
3. Sedang musim DBD
4. Tinggal di lingkungan kumuh
5. Gizi buruk

E. KLASIFIKASI
1. Grade I : Kesadaran kompos Mentis, keadaan mum lemah, tanda-tanda
vital dan nadi lemah
2. Grade II : Kesadaran kompos Mentis, kedaan umum lemah ada
pendarahan spontan ptekia, perdarahan gusi dan telinga,serta
nadi lemah
3. Grade III : Kesadaran apatis, somnoken, keadaan umum lemah, nadi
Lemah/ kecil dan tidak teratur serta tensi menurun.
4. Grade IV : kesadaran koma tanda-tanda vital: nadi tak teraba, tensi tidak
Teratur, ekstermitas dingin, berkeringat dan kulit tampak
biru.

F. PATOFISIOLOGI
Setelah virus dengue masuk ke dalam tubuh, penderita akan mengalami keluhan dan gejala karena anemia seperti demam, sakit kepala, mual, nyeri otot, pembesaran kelenjar getah bening, hati dan limpa.
Fenomena patofisiologi utama yang menentukan berat penyakit dan membedakan DF dengan DHF ialah meningginya permeabilitas dinding kapiler karena pelepasan zat anafilatoksin, histamine, dan serotonin serta aktifasi system kalikrein yang berakibat akstravasi cairan intravaskulan ke ekstravaskular.
Hal ini berakibat berkurangnya volum plasma, terjadinya hipotensi, hemokonsentrasi, hipoproteinemia, efusi dan renjakan.plasma merembes selama perjalanan penyakit mulai dari saat permulaan demam dan mencapai puncaknya pada saat renjatan.pada penderita dengan renjatan berat, volum plasma dapat menurun sampai > 30%.
Adanya kebocoran plasma ke daerah ekstravaskuler dibuktikan dengan ditemukanya cairan dalam rongga serosa yaitu rongga perikonium pleura n perikard yang pada autopsy ternyata melebihi jumlah cairan yang telah diberikan sebelumnya melalui infuse. Renjatan hipovolemik yang terjadi sebagai akibat kehilangan plasma, bila tidak segera diatasi dapat berakibat anoksia jaringan, asidosis metabolic dan kematian.
Renjatan yang terjadi akut dan perbaikan klinis yang drastic stelah pemberian plasma yang efektif, sedangkan pada autopsy tidak ditemukan kerusakan dinding pembuluh darah yang destruktif, menimbulkan dugaan bahwa perubahan fungsional dinding pembuluh darah mungkin disebabkan mediator farmakologis yang bekerja singkat. Sebab lain pada DHF adalah perdaraan hebat yang biasanya timbul setelah renjatan berlangsung lama.

G. PATHWAY
Aedes Aegypti

Permeabilitas Vaskuler
Toksin
Gangguan Termoregulasi

Kebocoran Plasma ( Vol Plasma)
Anofilaktosis C35 & C50 Set point

Cairan tertimbun dalam rongga serosa Histamin
Dx Hipertermi
Renjatan hipovolemik Sinapsis
Asidosis Metabolik Iritasi sel Pankreas Gaster

Mual Muntah
Nyeri
Kekurangan volume cairan


H. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pada pemeriksaan darah pasien DHF akan dijumpai
1. Hb dan PCU meningkat ( ≥ 20% )
2. Trobositopenia (≤ 100.000/ ml )
3. Leucopenia (lingkungan normal atau lekositosis)
4. Lg D dengue positif
5. Hasil pemeriksanaan kimia darah menunjukan : hipoproteinemia, hipokloremia dan hiponatremia
6. Ureum dan pH darah mungkin meningkat
7. Asidosis metabolic : pCO2 < 35-40 mmHg dan HCO3 rendah
8. SGOT/ SGPT meningkat

I. PENCEGAHAN
Pencegahan umum dan program pemberantasan dari pemerintah. Pencegahan umum dan program dalam memberantas penyakit demam berdarah yang dilakukan oleh pemerintah telah mengalami perbaikan selama hampir 36 tahun. Dekade pertama adalah dengan cara penyemprotan dengan menggunakan alat potabel dan ultra low volume (ULV). Dan dekade kedua dilakuka dengan penyemprotan yang ditambah dengan larvaside atau yang dikenal dengan abate. Secara umum pencegahan dilakukan dengan:
1. .Penyemprotan atau vagging
2. Pemberian bubuk abate pada bak penampungan air
3. PSM (1993) diikuti pembentukan kelompok kerja (pokja) DBD yang merupakan koordinasi pemberantasan DBD dalam wadah LKMD
4. Pemerintah juga membentuk forum kerjasama linta sektoraldi tiap tingkat administrasi pemerintah (kecamatan, kabupaten, propinsi, dan pusat) yang disebut dengan kelompok kerja oprasional
5. Gunakan pemberantasan sarang nyamuk (GPSN). Pertama kali tanggal 14 april 1998. gerakan tersebut meliputi 3M, yaitu:
 Menguras tempat-tempat penampungan air secara teratur sedikitnya seminggu sekali / menaburkan bubuk abate kedalamnya
 Menutup rapat-rapat tempat penampungan air
 Mengukur atau menyingkirkan barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan

J. PENATALAKSANAAN
1. Kasus DBD yang diperkenankan berobat jalan
a. Bila penderita hanya mengeluh panas
b. Keinginan minum dan makan masih baik
c. Mengatasi panas tinggi mendadak diberikan otot panas parasetamol 10-15 mg/Kg BB setiap 3-4 jam diulang jika simtom panas masih nyata diatas 38,5ÂșC.
2. Kasus DBD derajat I dan II
a. Pada hari ke 3, 4 dan 5 panas dianjurkan rawat inap karena penderita ini mempunyai resiko terjadinya syok.
b. Infuse cairan kristaloid, koloidal
c. Banyak minum air buah/ oralit
d. Kebutuhan cairan sebainya diberikan dalam kurun waktu 2-3 jam pertama dan selanjutnya tetesan diatur kembali dalam waktu 24-48 jam saat kebocoran plasma terjadi.
3. Kasus DBD derajat III dan IV
a. Larutan garam isotonic (ringer laktat 5 % dektrose dalam larutan ringer laktat atau 5% dektrose dalam larutan ringer asetat dan larutan normal garam faali) dengan jumlah 10-20 ml/Kg/1 jam.
b. Diberikan bolus 10 ml/ Kg (1 atau 2X)
c. Jika syok berlangsung terus dengan hematoksit yang tinggi, larutan koloidal (dekstran dengan berat molekul 40.000 di dalam larutan normal garam faal/ plasma) dapat diberikan dengan jumlah 10-20 ml/kg/jam
d. Pemasangan Central venus Pressure dan kateter Urinal.
e. Pada bayi dianjurkan 5% dekstrose di dalam setengah larutan normal garam faali (5% dekstrose ½ NSS) dipakai pada awal memperbaiki keadaan penderita dan 5% dekstrose di dalam 1/3 larutan normal garam faali boleh diberikan pada bayi di bawah 1 tahun, jika kadar natrium dalam darah normal
f. Infuse dihentikan bila hematokrit sampai 40% dengan tanda vital stabil/ normal
4. Koreksi elektrosit dan kelainan metabolic kadar kalium dalam serum pada kasus yang berat biasanya rendah
5. Obat penenang
a. Chloral hidrat oral/ rectal dosis 12,5-50 mg/kg (jangan lebih 1 jam)
b. Valium 0,3-0,5 mg/kg/BB/kali (bila tidak terjadi gangguan system pernafasan)
c. Lorgactil 1 mg/kg/BB/hari
6. Terapi O2
7. Tranfusi darah
8. Perawatan dirumah
 Minum yang banyak.
 Dicatat seberapa banyak minumnya
 Dicatat kencing jam berapa
 Nutrisi harus terpenuhi
 Kalau demam diatas 38C diberi parasetamol
 Dilarang keras memberikan Salisilat dan ibuprofen.
 Tiap hari mulai hari ke 3, 4, 5, 6 sebaiknya kontrol dokterdan pemeriksaan darah terutama hematokrit dan trombosit.

K. PROGNOSIS
Kematian dijumpai pada waktu ada pendarahan yang berat, syock yang tidak teratasi, efusi pleura dan asites yang berat dan kejang. Kematian dapat juga disebabkan oleh sepsis karena tindakan dan lingkungan bangsal rumah sakit yang kurang bersih. Kemudian terjadi kasus yang berat yaitu waktu muncul komplikasi pada sistem saraf, kardiovaskuler, pernafasan, darah dan organ lain.


L. KOMPLIKASI
Peningkatan jumlah kasus ini mempunyai hubungan dengan manifestasi tidak umum, manifestasi ini termasuk fenomena SSP seperti kejang, spastisitas, perubahan kesadaran dan proses transit. Bentuk kejang halus kadang terjadi selama fase demam pada bayi. Kejang ini mungkin hanya kejang demam sederhana, karena cairan serebrospinal ditemukan normal dalam kasus ini. Intoksikasi air akibat dari pemberian cairan isotonik berlebihan untuk mengatasi pasien dengan hipoatremia dapat menimbulkan ensefalopati.
Ada beberapa laporan tentang isolasi virus / anti dengue IgM dari cairan serebrospinal. Namun sampai sekarang tidak ada bukti keterlibatan langsung virus dengue dalam kerusakan neural.
Perawatan harus dilakukan secara hati-hati untuk mencegah komplikasi iatrogenik dalam pengobatan DHF. Komplikasi ini termasuk sepsis, pneumonia, infeksi luka, dan dehidrasi berlebihan. Penggunaan jalur intravena terkontaminasi dapat menyebabakan sepsis gram negatif yang disertai dengan demam, syok, dan pendarahan berat, pneumonia dan infeksi lain dapat menyebabkan dan menyulitkan pemulihan. Hidrasi berlebihan dapat menyebabkan GG atau pernafasan.














BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN DHF PADA ANAK

A. PENGKAJIAN
1. Identitas pasien
2. Keluhan utama
Alasan/ keluhan yang menonjol pada pasien DHF untuk dating ke RS adalah panas tinggi dan anak lemah
3. Riwayat penyakit sekarang
Didapatkan adanya keluhan panas mendadak yang disertai menggigil dan saat-saat demam kesadaran kompos mentis. Turunnya panas terjadi antara hari ke 3 dan ke 7 dan anak semakin lemah. Kadang-kadang disertai keluhan batuk, pilek, mual, nyeri telan, muntah anoreksia, nyeri otot, dan persendian.
4. Riwayat penyakit yang pernah diderita
5. Riwayat Imunisasi
6. Riwayat gizi
7. Kondisi lingkungan
8. Pola kebiasaan
9. Pemeriksaan fisik meliputi: inspeksi, palposi, aukskultasi dan perkusi dari ujung rambut sampai ujung kaki berdasarkan tingkatan DHF
10. Pemeriksaan system otot
11. Psikosial: cemas terhadap kondisi yang sekarang.
12. Pemeriksaan fisik lainnya
1. Adanya petekia pada kulit menurun dan muncul keringat dingin dan lembab
2. Kuku sianosis
3. Kepada dan leher
Kepala terasa nyeri, muka tampak kemerahan karena demam, mata anemis, hidung kadang mengalami pendarahan (epitaksis) pada grade II,III,IV. Pada mulut didapatkan bahwa mukosa mulut kering, terjadi perdarahan gusi dan nyeri telan. Tenggorokan mengalami hyperkimia pharing dan terjadi pendarahan telinga (pada grade II,III,IV)
4. Dada
Bentuk simetris dan kadang-kadang terasa sesak. Pada foto thorax terhadap adanya cairan yang tertimbun pada paru sebelah kanan (efusi pleura)
5. Abdomen
Mengalami nyeri tekan, perbesaran hati (hepatomegali) dan asites
6. Ektremitas, akral dingin serta terjadi nyeri otot, sendi serta tulang.


B. DIAGNOSA PRIORITAS
1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif (mual, muntah)
2. Hyperthermia berhubungan dengan penyakit
3. Nyeri akut berhubungan dengan Agen Indera Biologi

C. PERENCANAAN
1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif (mual, muntah)
NOC : - mengontrol pemasukan dan pengeluaran cairan
- Tidak ada tanda-tanda dehidrasi
- Mengontrol berat badan
- Mampu mengidentifikasi kbutuhan nutrisi
NIC : - monitor keadaan umum pasien
- Observasi tanda-tanda vital
- Perhatikan keluhan pasien
- Kolaborasi pemasangan infuse dan terapi-terapi cairan intravena
- Monitor input dan output cairan
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori yang dibutuhkan pasien.


2. Hyperthermia berhubungan dengan penyakit
NOC : - Suhu tubuh dalam rentang normal
- Nadi dan RR dam rentang normal
- Tidak ada perubahan warna kulit
NIC : - observasi tanda-tanda vital
- Berikan penjelasan kedada pasien / keluarga untuk mengatasi demam
- Jelaskan pentingnya tiras baring
- Anjurkan pasien untuk banyak minum
- Catat asupan dan keluaran cairan
- Kolaborasi pemberian cairan intravena
- Kolaborasi pemberian obat
3. Nyeri akut berhubungan dengan Agen Indera Biologi
NOC : - Kontrol nyeri
- Klien mengatakan nyeri berkurang
- Klien dapat mengekspresikan nyeri secara verbal
NIC : - mengkaji tingkat nyeri
- Berikan posisi yang nyaman
- Berikan suasana yang gembira
- Berikan teknik nonfarmakologi
- Kolaborasi pemberian analgetik
- Kaji lokasi nyeri

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar