Jumat, 23 Juli 2010

askep fraktur

A. KONSEP DASAR MEDIS
1. Definisi
a. Fraktur adalah pemisahan atau patahnya tulang (askep edisi 3 halaman 761, Merlynn. E. Doengoes, Mary Frances Moorhouse, Alice C. Gelssler).
b. Fraktur adalah terputusnya kontuinitas tulang dan atau tulang rawan (Arif Mansjoer edisi 2 halaman 384)
c. Fraktur adalah patah tulang biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik (Silvia A Brince Lamaine Manajemen Wilson Patofisiologi).
d. Fraktur adalah terputusnya kontuinitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya (Brunner dan Suddarth Volume 31, halaman 2357).

2. Etiologi
a. Trauma Langsung/Direk
Yaitu fraktur yang terjadi di tempat dimana bagian tersebut mendapat ruda paksa misalnya benturan/pukulan.
b. Trauma Tidak Langsung/Indirek
Penderita jatuh dengan lengan dalam keadaan ekstensi dapat terjadi fraktur pada pergelangan kolum anergikum humeri, suprakon diler, dan luka tembak.
c. Trauma Ringan
Yaitu terutama karena itu sendiri sudah rapuh (fraktur patologik)




3. Manifestasi Klinik
a. Aktifitas/Istirahat
Tanda : Keterbatasan/kehilangan fungsi pada bagian yang terkena (mungkin segera, fraktur itu sendiri, atau terjadi secara sekunder, dari pembengkakan jaringan, nyeri).
b. Sirkulasi
Tanda : Hipertensi (kadang-kadang terlihat sebagai respon terhadap nyeri/ansietas) atau hipotensi (kehilangan darah).
Takikardia (Respons stress, Hipovolemia).
Penurunan atau tak ada nadi pada bagian distal yang cedera, pengisian kapiler lambat, pucat pada bagian yang terkena.
Pembengkakan jaringan atau massa hematoma pada sisi cedera.
c. Neurosensori
Gejala : Hilang gerakan atau sensasi, spasme otot. Kebas/kesemutan (Parestensis).
Tanda : Deformitas local; angulasi abnormal, pemendekan, rotasi, krepitasi (Bunyi berderit), spasme otot, terlihat kelemahan/hilang fungsi. Angistasi (mungkin berhubungan dengan nyeri/ansietas atau trauma lain).
d. Nyeri/Kenyamanan
Gejala : Nyeri berat tiba-tiba pada saat cedera (mungkin terlokalisasi pada area jaringan/kerusakan tulang, dapat berkurang pada imobilisasi); tak ada nyeri akibat kerusakan syaraf. Spasme/kram otot (setelah imobilisasi).
e. Keamanan
Tanda : Laserasi kulit, evulsi jaringan, perdarahan, perubahan warna. Pembengkakan local (dapat meningkat secara bertahap atau tiba-tiba).
f. Penyuluhan/Pembelajaran.
Gejala : Lingkungan cedera.
Pertimbangan
Rencana Pemulangan : DRG menunjukkan rerata lama dirawat: Femur 7,8 hari; panggul/pelvis, 6,7 hari; lainnya, 4,4 hari bila memerlukan perawatan dirumah sakit. Memerlukan bantuan dengan transportasi, aktivitas perawatan diri, dan tugas pemeliharaan/perawatan rumah.
























4. Anatomi/Fisiologi
a. Anatomi



























b. Fisiologi
Tulang dewasa terdiri dari 30% bahan organic (hidup) dan 70% endapan garam. Bahan organic disebut Matriks, dan terdiri lebih dari 90% serat kolagen dan kurang dari 10% proteoglikan (protein plus polisakarida). Defosit garam terutama adalah kalsium dan fosfat, dengan sedikit natrium, kalsium karbonat dan ion magnesium. Garam-garam menutupi matriks dan berikatan dengan serat kolagen melalui proteoglikan. Adanya bahan organic menyebabkan tulang memiliki kekuatan tensil (resistensi terhadap tarikan yang merengangkan) sedangkan garam-garam menyebabkan tulang memiliki kekuatan kompresi (kemampuan menahan tekanan).
Pembentukan tulang berlangsung secara terus menerus dan dapat berupa pemanjangan dan penebalan tulang-tulang ditentukan oleh rangsangan hormone, factor makanan dan jumlah stress yang dibebankan pada suatu tulang dan terjadi akibat aktivitas sel-sel pembentuk tulang, osteoblas. (Buku saku patologis, system musculoskeletal halaman 291)












5. Patofisiologi




























6. Klasifikasi
a. Fraktur Komplet : Fraktur dimana keutuhan tulangnya tidak terputus atau tidak komplet. (Patofisiologi untuk keperawatan, EGC 2000, dr. Jan Tambayong).
b. Fraktur tidak komplet : Patah hanya pada sebagian dari garis tengah tulang.
c. Fraktur tertutup : Fraktur tapi tidak menyebabkan robeknya kulit.
d. Fraktur terbuka : Fraktur dengan luka pada kulit atau membrane mukosa sampai kepatahan tulang.
e. Green Stick : Fraktur dimana salah satu sisi tulang patah, sedang sisi lainnya membengkok.
f. Transversal : Fraktur sepanjang garis tengah tulang.
g. Komuinitif : Fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa fragmen.
h. Depresi : Fraktur dengan fragmen patahan terdorong kedalam.
i. Kompresi : Fraktur dimana tulang mengalami kompresi (pada tulang belakang).
j. Patologik : Fraktur yang terjadi pada daerah tulang oleh ligament/tendo pada daerah perlekatannya.
k. Fraktur Sederhana : Fraktur yang tidak merusak kulit diatasnya, fraktur kompleks merusak kulit diatasnya.
l. Fraktur Komplit : Fraktur yang keutuhannya terputus atau tidak komplet. (Patofisiologi untuk keperawatan, EGC 2000, dr. Jan Tambayong).



7. Diagnosa Penunjang
Diagnosa Radiologik/Rosen ialah pemeriksaan radiologik perlu dilakukan bilamana dicurigai adanya patah tulang atau disangka adanya suatu robekan ligament. Biasanya pemotretan dilakukan dari dua sudut, anteroposterior.

8. Penata Laksanaan
a. Medik
1). Fraktur harus segera dimobilisasi agar hematon fraktur dapat terbentuk dan untuk memperkecil kerusakan.
2). Penyambungan kembali tulang (reduksi) penting dilakukan agar posisi dan rentang gerak normal putih. Sebagian besar reduksi dapat dilakukan tanpa intervensi bedah (reduksi tertutup); apabila diperlukan tindakan bedah untuk fiksasi (reduksi terbuka) dapat dipasang pen/sekrup untuk mempertahankan reduksi dan merangsang penyembuhan.
3). Perlu dilakukan imobilisasi jangka panjang setelah reduksi agar kalus dan tulang baru dapat terbentuk. Imobilisasi jangka panjang biasanya dilakukan dengan gips/penggunaan belat.
4). Traksi.
5). Reduksi terbuka dengan memasukkan pen, sekrup, plat kawat, dan jarum. (Buku Saku Patofisiologi halaman 300).

b. Perawat
1). Lakukan kompres es sekitar fraktur sesuai indikasi.
2). Awasi frekuensi pernafasan dan upayanya perhatikan esterior penggunaan otot bantu, retraksi, terjadinya sianosis sentral.
3). Berikan obat sesuai indekasi, efarin dosis rendah.
4). Menghilangkan nyeri pada klien.

B. KONSEP DASAR KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Pemeriksaan fisik berdasarkan pengkajian neuroskular (Apendiks D) dari fraktur anggota gerak menyatakan :
1). Nyeri pada lokasi fraktur terutama pada saat digerakkan.
2). Pembengkakan.
3). Pemendekan ekstremitas yang sakit.
4). Paralisis (Kehilangan daya gerak).
5). Angulasi ekstremitas yang sakit.
6). Krepitasi.
7). Spasme otot (Kakunya otot).
8). Parestesia.
9). Pucat.
b. Mengkaji riwayat imunisasi tetanus bila ada fraktur yang terbuka.
c. Pemeriksaan diagnostic.
d. Mengkaji kemampuan untuk aktivitas kehidupan sehari-hari (AKS).
Contoh : Mandi, Toileting, Makan, Berpakaian. (Medikal Bedah Vol. 2, Barbara Engrram).

2. Diagnosa Keperawatan
a. Trauma, Risiko Tinggi Terhadap (Tambahan)
1). Diagnosa
Faktor risiko meliputi : Kehilangan integritas tulang (fraktur).
Kemungkinan dibuktikan oleh : (Tidak dapat diterapkan; adanya tanda-tanda dan gejala-gejala membuat diagnosa actual).



2). Tujuan
Mempertahankan stabilitas dan posisi fraktur.
Menunjukkan mekanika tubuh yang meningkatkan stabilitas pada sisi fraktur.
Menunjukkan pembentukan kalus/mulai penyatuan fraktur dengan tepat.
3). Tindakan/Intervensi
Mandiri
a. Pertahankan tirah baring/ekstremitas sesuai indikasi. Berikan sokongan sendi diatas dan dibawah fraktur bila bergerak/membalik.
b. Letakkan papan dibawah tempat tidur atau tempatkan pasien pada tempat tidur ortopedik.
Gips/Bebat
c. Sokong fraktur dengan bantal/gulungan selimut. Pertahankan posisi netral pada bagian yang sakit dengan bantal pasir, pembebat, gulungan trokanter, papan kaki.
d. Tugaskan petugas yang cukup untuk membalik pasien. Hindari menggunakan papan abduksi untuk membalik pasien dengan gips spika.
e. Evaluasi pembelit ekstremitas terhadap resolusi edema.
Traksi
f. Pertahankan posisi/integritas traksi (contoh, Buck, Dunlop, Pearson, Russel).
g. Yakinkan bahwa semua klem berfungsi. Minyaki katrol dan periksa tali terhadap tegangan. Amankan dan tutup ikatan dengan plester perekat.
h. Pertahankan katrol tidak terhambat dengan beban bebas menggantung; hindari mengangkat/menghilangkan berat.
i. Bantu meletakkan beban dibawah roda tempat tidur bila diindikasikan.
j. Kaji ulang tahanan yang mungkin timbul karena terapi, contoh pergelangan tidak menekuk/duduk dengan traksi Buck atau tidak memutar dibawah pergelangan dengan traksi Russell.
k. Kaji integritas alat fiksasi eksternal.
Kolaborasi
l. Kaji ulang foto/evaluasi.
m. Berikan/pertahankan stimulasi listrik bila digunakan.
4). Rasional
a. Meningkatkan stabilitas, menurunkan kemungkinan gangguan posisi/penyembuhan.
b. Tempat tidur lembut atau lentur dapat membuat deformasi gips yang masih basah, mematahkan gips yang sudah kering, atau mempengaruhi dengan penarikan traksi.
c. Mencegah gerakan yang tak perlu dan perubahan posisi. Posisi yang tepat dari bantal juga dapat mencegah tekanan deformitas pada gips yang kering.
d. Gips panggul/tubuh atau multiple dapat membuat berat dan tidak praktis secara ekstrem. Kegagalan untuk menyokong ekstremitas yang digips dapat menyebabkan gips patah.
e. Pembebat koaptasi (contoh jepitan Jones-Sugar) mungkin digunakan untuk memberikan imobilitas fraktur dimana pembengkakan jaringan berlebihan. Seiring dengan berkurangnya edema, penilaian kembali pembelat atau penggunaan gips plester mungkin diperlukan untuk mempertahankan kesejajaran fraktur.
f. Jumlah beban traksi optimal dipertahankan. Catatan: Memastikan gerakan bebas beban selama mengganti posisi pasien menghindari penarikan berlebihan tiba-tiba pada fraktur yang menimbulkan nyeri dan spasme otot.
g. Membantu posisi tepat pasien dan fungsi traksi dengan memberikan keseimbangan timbal balik.
h. Mempertahankan integritas tarikan traksi.
i. Traksi Hoffman memberikan stabilisasi dan sokongan kaku untuk tulang fraktur tanpa menggunakan katrol, tali atau beban, memungkinkan mobilitas/kenyamanan pasien lebih besar dan memudahkan perawatan luka. Kurang atau berlebihannya keketatan klem/ikatan dapat mengubah tekanan kerangka, menyebabkan kesalahan posisi.
j. Memberikan bukti visual mulainya pembentukan kalus/proses penyembuhan untuk menentukan tingkat aktivitas dan kebutuhan perubahan/tambahan terapi.
k. Mungkin diindikasikan untuk meningkatkan pertumbuhan tulang pada keterlambatan penyembuhan/tidak menyatu.

b. Nyeri (Akut)
1). Diagnosa
Dapat dihubungkan dengan : Spasme otot. Gerakan fragmen tulang, edema, dan cedera pada jaringan lunak, Alat traksi/mobilisasi, Stres, Ansietas.
Kemungkinan dibuktikan oleh : Keluhan nyeri. Distraksi; focus pada diri sendiri/focus menyempit; wajah menunjukkan nyeri. Perilaku berhati-hati, melindungi; perubahan tonus otot; respons otonomik.
2). Tujuan
Menyatakan nyeri hilang. Menunjukkan tindakan santai; mampu berpartisipasi dalam aktivitas/tidur/istirahat dengan tepat.
Menunjukkan penggunaan keterampilan relaksasi dan aktivitas terapeutik sesuai indikasi untuk situasi individual.
3). Tindakan/Intervensi
Mandiri
a. Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring, gips, pembebat, traksi (Rujuk ke DK: Trauma, risiko tinggi terhadap, (Tambahan), hal. 774).
b. Tinggikan dan dukung ekstremitas yang terkena.
c. Hindari penggunaan sprei/bantal plastik dibawah ekstremitas dalam gips.
d. Tinggikan penutup tempat tidur; pertahankan linen terbuka pada ibu jari kaki.
e. Evaluasi keluhan nyeri/ketidaknyamanan, perhatikan lokasi dan karakteristik, termasuk intensitas (Skala 0-10). Perhatikan petunjuk nyeri nonverbal (perubahan pada tanda vital dan emosi/perilaku).
f. Dorong pasien untuk mendiskusikan masalah sehubungan dengan cedera.
g. Jelaskan prosedur sebelum memulai.
h. Beri obat sebelum perawatan aktivitas.
i. Lakukan dan awasi latihan rentang gerak pasif/aktif.
j. Berikan alternative tindakan kenyamanan, Contoh pijatan, pijatan punggung, perubahan posisi.
k. Dorong menggunakan teknik manajemen stress, contoh relaksasi progresif, latihan nafas dalam, imajinasi visualisasi. Sentuhan terapeutik.
l. Identifikasi aktivitas keluhan nyeri yang tidak biasa/tiba-tiba atau dalam, lokasi progresif/buruk tidak hilang dengan analgesic.
Kolaborasi
m. Lakukan kompres dingin/es 24-48 jam pertama dan sesuai keperluan.
n. Berikan obat sesuai indikasi narkotik dan analgesic non narkotik; NSAID injeksi, contoh ketoralak (Toradol); dan/atau relaksan otot, contoh siklobenzaprin (Flekseril); hidroksin (Visteril). Berikan narkotik sekitar pada jamnya selama 3-5 hari.
o. Berikan/awasi analgesic yang dikontrol pasien (ADP) bila indikasi.
4). Rasional
a. Menghilangkan nyeri dan mencegah kesalahan posisi tulang/tegangan jaringan yang cedera.
b. Meningkatkan aliran balik vena, menurunkan edema, dan menurunkan nyeri.
c. Dapat meningkatkan ketidaknyamanan karena peningkatan produksi panas dalam gips yang kering.
d. Mempertahankan kehangatan tubuh tanpa ketidaknyamanan karena tekanan selimut pada bagian yang sakit.
e. Mempengaruhi pilihan/pengawasan keektifan intervensi.
f. Tingkat ansietas dapat mempengaruhi persepsi/reaksi terhadap nyeri.
g. Membantu untuk meningkatkan ansietas. Pasien dapat merasakan kebutuhan untuk menghilangkan pengalaman kecelakaan.
h. Memungkinkan pasien untuk siap secara mental untuk aktivitas juga berpartisipasi dalam mengontrol tingkat ketidaknyamanan.
i. Meningkatkan relaksasi otot dan menigkatkan partisipasi.
j. Mempertahankan kekuatan/mobilitas otot yang sakit dan memudahkan resolusi inflamasi pada jaringan yang cedera.
k. Meningkatkan sirkulasi umum; menurunkan area tekanan local dan kelelahan otot.
l. Memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan rasa control, dan dapat meningkatkan kemampuan koping dalam manajemen nyeri, yang mungkin menetap untuk periode lebih lama.
m. Mencegah kebosanan, menurunkan tegangan, dan dapat meningkatkan kekuatan otot; dapat meningkatkan harga diri dan kemampuan koping.
n. Dapat menandakan terjadinya komplikasi, contoh infeksi, iskemia jaringan, sindrom kompartemen (Rujuk ke DK: Perfusi Jaringan, Perubahan: Perifer, risiko tinggi terhadap).
o. Menurunkan edema/pembentukan hematoma, menurunkan sensasi nyeri.
p. Diberikan untuk menurunkan nyeri dan/atau spasme otot.
q. Penelitian Toradol telah diperbaiki menjadi lebih efektif dalam menghilangkan nyeri tulang, dengan masa kerja lebih lama dan sedikit efek samping bila dibandingkan dengan agen narkotik. Catatan: Vistaril sering digunakan untuk efek poten dari narkotik untuk memperbaiki/menghilangkan nyeri panjang.
r. Pemberian rutin ADP mempertahankan kadar analgesic darah adekuat, mencegah fluktuasi dalam penghilangan nyeri sehubungan dengan tegangan otot/spasme.




c. Disfungsi Neurovaskuler Perifer, Risiko Tinggi Terhadap
1). Diagnosa
Faktor risiko meliputi : Penurunan/interupsi aliran darah; cedera vaskuler langsung, edema berlebihan, pembentukan thrombus. Hipovolemia.
Kemungkinan dibuktikan oleh : (Tidak dapat diterapkan; adanya tanda-tanda dan gejala-gejala membuat diagnosa actual).
2). Tujuan
Mempertahankan perfusi jaringan dibuktikan oleh terabanya nadi, kulit hangat/kering, sensasi normal, sensori biasa, tanda vital stabil, dan haluaran urine adekuat untuk situasi individu.
3). Tindakan/Intervensi
Mandiri
a. Lepaskan perhiasan dari ektremitas yang sakit.
b. Evaluasi adanya/kualitas nadi perifer distal terhadap cedera melalui palpasi/Doppler. Bandingkan dengan ekstremitas yang sakit.
c. Kaji aliran kapiler, warna kulit, dan kehangatan distal pada fraktur.
d. Lakukan pengkajian neuromuskuler. Perhatikan perubahan fungsi motor/sensori. Minta pasien untuk melokalisasi nyeri/ketidaknyamanan.
e. Tes sensasi saraf perifer dengan menusuk pada kedua selaput antara ibu jari pertama dan kedua dan kaji kemampuan untuk dorsofleksi ibu jari bila diindikasikan.
f. Kaji jaringan sekitar akhir gips untuk titik yang kasar/tekanan. Selidiki keluhan “rasa terbakar” dibawah gips.
g. Awasi posisi/lokasi cincin penyokong bebat.
h. Pertertahankan peninggian ekstremitas yang cedera kecuali dikontradiksikan dengan meyakinan adanya sindrom kompartemen.
i. Kaji keseluruhan panjang ekstremitas yang cedera untuk pembengkakan/pembentukan edema. Ukur ekstremitas yang cedera dan dibandingkan dengan yang tidak cedera. Perhatikan penampilan/luasnya hematoma.
j. Perhatikan keluhan nyeri ekstem untuk tipe cedera atau peningkatan nyeri pada gerakan pasif ekstremitas, terjadinya parestesia, tegangan otot/nyeri tekan dengan eritema, dan perubahan nadi distal. Jangan tinggikan ekstremitas. Laporkan gejala pada dokter saat itu.
k. Selidiki tanda iskemia ekstremitas tiba-tiba, contoh penurunan suhu kulit dan peningkatan nyeri.
l. Dorong pasien untuk secara rutin latihan jari/sendi distal cedera. Ambulasi sesegera mungkin.
m. Selidiki nyeri tekan, pembengkakan pada dorsofleksi kaki (tanda Homan positif).
n. Awasi tanda vital. Perhatikan tanda-tanda pucat/sianosis umum, kulit dingin, perubahan mental.
o. Tes feses/aspirasi gaster terhadap darah nyata. Perhatikan perdarahan lanjut pada sisi trauma/injeksi dan perdarahan terus menerus dari membrane mukosa.
Kolaborasi
p. Berikan kompres es sekitar fraktur sesuai indikasi.
q. Bebat/buat spaik sesuai kebutuhan.
r. Kaji/awasi untuk intervensi bedah (contoh, fibulektomi/fasiotomi) sesuai indikasi.
s. Awasi Hb/Ht, pemeriksaan koagulasi, contoh kadar protrombin.
t. Berikan warfarin natrium (Coumadin) bila diindikasikan.
u. Berikan kaus kaki antiembolitik/tekanan berurutan sesuai indikasi.
4). Rasional
a. Dapat membendung sirkulasi bila terjadi edema.
b. Penurunan/tak adanya nadi dapat menggambarkan cedera vaskuler dan perlunya evaluasi medik segera terhadap status sirkulasi. Waspadai bahwa kadang-kadang nadi dapat terhambat oleh bekuan halus dimana pulsasi mungkin teraba. Selain itu, perfusi melalui arteri lebih besar dapat berlanjut setelah meningkatnya tekanan kompartemen yang telah mengempiskan sirkulasi arteriol/venula otot.
c. Kembalinya warna harus cepat (3-5 detik). Warna kulit putih menunjukkan gangguan arterial. Sianosis diduga ada gangguan vena. Catatan: Nadi perifer, pengisian kapiler, warna kulit, dan sensasi mungkin normal meskipun ada sindrom kompartemen, karena sirkulasi superficial biasanya tidak dipengaruhi.
d. Gangguan perasaan kebas, kesemutan, peningkatan/penyebaran nyeri terjadi bila sirkulasi pada saraf tidak adekuat atau saraf rusak.
e. Panjang dan posisi saraf perineal meningkatkan risiko cedera pada adanya fraktur kaki, edema/sindrom kompartemen, atau malposisi alat traksi.
f. Faktor ini disebabkan atau mengindikasikan tekanan jarringan/iskemia, menimbulkan kerusakan/nekrosis.
g. Alat traksi dapat menyebabkan tekanan pada pembuluh darah/saraf, terutama pada aksila dan lipat paha, mengakibatkan iskemia dan kerusakan saraf permanent.
h. Meningkatkan drainase vena/menurunkan edema. Catatan: Pada adanya peningkatan tekanan kompartemen, peningkatan ekstremitas secara nyata menghalangi aliran arteri. Menurunkan perfusi.
i. Peningkatan lingkar ekstremitas yang cedera dapat diduga ada pembengkakan jaringan/edema umum tetapi dapat menunjukkan perdarahan. Catatan: Peningkatan 1 inci pada paha orang dewasa dapat sama dengan akumulasi 1 unit darah.
j. Perdarahan/pembentukan edema berlanjut dalam otot tertutup dengan fasia ketat dapat menyebabkan gangguan aliran darah dan iskemia miositis atau sindrom kompartemen, perlu intervensi darurat untuk menghilangkan tekanan/memperbaiki sirkulasi. Catatan: Kondisi ini memerlukan kedaruratan medik dan memerlukan intervensi segera.
k. Dislokasi fraktur sendi (khususnya lutut) dapat menyebabkan kerusakan arteri yang berdekatan, dengan akibat hilangnya aliran darah ke distal.
l. Meningkatan sirkulasi dan menurunkan pengumpulan darah khususnya pada ekstremitas bawah.
m. Terdapat peningkatan potensial untuk tromboflebitis dan emboli paru pada pasien imobilisasi selama 5 hari atau lebih.
n. Ketidakadekuatan volume sirkulasi akan mempengaruhi system perfusi jaringan.
o. Peningkatan insiden perdarahan gaster menyertai fraktur/trauma dan dapat berhubungan dengan stress dan kadang-kadang menunjukkan gangguan pembekuan yang memerlukan intervensi lanjut.
p. Menurunkan edema/pembentukan hematoma, yang dapat mengganggu sirkulasi.
q. Mungkin dilakukan pada keadaan darurat untuk menghilangkan restriksi yang diakibatkan oleh pembentukan edema pada ekstremitas yang cedera.
r. Peninggian tekanan (biasanya sampai 30 mmHg atau lebih) menunjukkan kebutuhan evaluasi segera dan intervensi.
s. Kegagalan untuk menghilangkan tekanan/memperbaiki sindrom kompartemen dalam 4 sampai 6 jam dari timbulnya dapat mengakibatkan kontraktur berat/kehilangan fungsi dan kecatatan ekstermitas distal cedera atau perlu amputasi.
t. Membantu dalam kalkulasi kehilangan darah dan membutuhkan keefektifan terapi penggantian.
u. Mungkin diberikan secara profilaktik untuk menurunkan thrombus vena dalam.
v. Menurunkan pengumpulan vena dan dapat meningkatkan aliran balik vena, sehingga menurunkan risiko pembentukan thrombus.

d. Pertukaran Gas, Kerusakan, Risiko Tinggi Terhadap Tambahan
1). Diagnosa
Faktor risiko meliputi : Perubahan aliran darah/omboli lemak. Perubahan membrane alveolar/kapiler, interstisial, edema paru, kongesti.
Kemungkinan dibuktikan oleh : (Tidak dapat diterapkan adanya tanda-tanda dan gejala-gejala membuat diagnosa actual).
2). Tujuan
Mempertahankan fungsi pernafasan adekuat, dibuktikan oleh tak adanya dispnea/sianosis, frekuensi pernafasan dan GDA dalam batas normal.

3). Tindakan/Intervensi
Mandiri
a. Awasi frekuensi pernapasan dan upayanya. Perhatikan stridor, penggunaan otot bantu, retraksi, terjadinya sianosis sentral.
b. Auskultasi bunyi nafas perhatikan terjadinya ketidaksamaan, bunyi hiperesonan, juga adanya gemericik/ronki/mengi dan inspirasi mengorok/bunyi sesak nafas.
c. Atasi jaringan cedera/tulang dengan lembut, khususnya selama beberapa hari pertama.
d. Instruksikan dan bantu dalam latihan nafas dalam dan batuk, reposisi dengan sering.
e. Perhatikan peningkatan kegelisahan, kacau, letargi, stupor.
f. Observasi sputum untuk tanda adanya darah.
g. Inspeksi kulit untuk petekie diatas garis putting; pada aksilia, meluas ke abdomen/tubuh; mukosa mulut, palatum keras; kantung konjungtiva dan retina.
Kolaborasi
h. Bantu dalam spirometri insentif.
i. Berikan tambahan O2 bila diindikasikan.
j. Awasi pemeriksaan laboratorium, contoh:
Seri GDA
Hb, kalsium, LED, lipase serum, lemak, trombosit
k. Berikan obat sesuai indikasi:
Heparin dosis rendah;
Kortikosteroid,
4). Rasional
a. Takipnea, dispnea, dan perubahan dalam mental dan tanda dini insufisiensi pernafasan dan mungkin hanya indicator terjadinya emboli paru ada tahap awal. Masih adanya tanda/gejala menunjukkan distress pernafasan luas/cenderung kegagalan.
b. Perubahan dalam/adanya bunyi adventisius menunjukkan terjadinya komplikasi pernafasan, contoh atelektasis, pneumonia, emboli, SDPD. Inspirasi mengorok menunjukkan edema jalan nafas atas dan diduga emboli lemak.
c. Ini dapat mencegah terjadinya emboli lemak (biasanya terlihat pada 12-72 jam pertama), yang erat berhubungan dengan fraktur, khususnya tulang panjang dan pelvis.
d. Meningkatkan ventilasi alveolar dan perfusi. Reposisi meningkatkan drainase secret dan menurunkan kongesti pada area paru dependen.
e. Gangguan pertukaran gas/adanya emboli paru dapat menyebabkan penyimpangan pada tingkat kesadaran pasien seperti terjadinya hipoksemia/asidosis.
f. Hemodialisa dapat terjadi dengan emboli paru.
g. Ini adalah karakteristik paling nyata dari tanda emboli lemak, yang tampak dalam 2-3 hari setelah cedera.
h. Memaksimalkan ventilasi/oksigenasi dan meminimalkan atelektasis.
i. Meningkatkan sediaan O2 untuk oksigenisasi optimal jaringan.
j. Menurunnya PaO2 dan meningkatkan PaO2 menunjukkan gangguan pertukaran gas/terjadinya kegagalan.
k. Anemia, hipokalsemia, peningkatan LED dan kadar lipase, gelembung lemak dalam darah/urine/sputum dan penurunan jumlah trombosit (trombositopenia)sering berhubungan dengan emboli lemak.
l. Blok siklus pembentukan dan mencegah bertambahnya pembekuan pada adanya tromboflebitis.
m. Steroid telah digunakan dengan beberapa keberhasilan untuk mencegah/mengatasi emboli lemak

e. Mobilitas Fisik, Kerusakan
1). Diagnosa
Dapat dihubungkan dengan : Kerusakan rangka neuromuskuler; ketidaknyamanan, terapi restriktif (imobilisasi tungkai).
Kemungkinan dibuktikan oleh : Ketidaknyamanan untuk bergerak sesuai tujuan dalam lingkungan fisik, dilakukan pembatasan. Menolak untuk bergerak, keterbatasan rentang gerak. Penurunan kekuatan/control otot.
2). Tujuan
Meningkatkan/mempertahankan mobilitas pada tingkatan paling tinggi yang mungkin.
Mempertahankan posisi fungsional.
Meningkatkan kekuatan/fungsi yang sakit dan mengkompensasi bagian tubuh.
Menunjukkan teknik yang memampukan melakukan aktivitas.
3). Tindakan/Intervensi
Mandiri
a. Kaji derajat imobilitas yang dihasilkan oleh cedera/pengobatan dan perhatikan persepsi pasien terhadap imobilisasi.
b. Dorong partisipasi pada aktivitas terapeutik/rekreasi. Pertahankan rangsangan lingkungan contoh; radio TV, Koran, barang milik pribadi/lukisan, jam, kalender, kunjungan keluarga/teman.
c. Instruksikan pasien untuk/bantu dalam rentang gerak pasien/aktif pada ekstremitas yang sakit dan yang tak sakit.
d. Dorong penggunaan latihan isometric mulai dengan tungkai yang tak sakit.
e. Berikan papan kaki, bebat pergelangan, gulungan trokanter/tangan yang sesuai.
f. Tempatkan dalam posisi telentang secara periodic bila mungkin, bila traksi digunakan untuk menstabilkan fraktur tungkai bawah.
g. Instruksikan/dorong menggunakan trapeze dan “pasca posisi” untuk fraktur tungkai bawah.
h. Bantu/dorong perawatan diri/kebersihan (contoh mandi, mencukur).
i. Berikan/bantu dalam mobilisasi dengan kursi roda, kruk, tongkat, sesegera mungkin. Intruksikan keamanan dalam menggunakan alat mobilitas.
j. Awasi TD dengan melakukan aktivitas. Perhatikan keluhan pusing.
k. Ubah posisi secara periodic dan dorong untuk latihan batuk/napas dalam.
l. Auskultasi bising usus. Awasi kebiasaan eliminasi dan berikan keteraturan defekasi rutin. Tempatkan pada pispot, bila mungkin, atau menggunakan bedpan fraktur. Berikan privasi.
m. Dorong peningkatan masukan cairan sampai 2000-3000 ml/hari, termasuk air asam/jus.
n. Berikan diet tinggi protein, karbohidrat, vitamin, dan mineral. Pertahankan penurunan kandungan protein sampai setelah defekasi pertama.
o. Tingkatkan jumlah diet kasar, batasi makanan pembentuk gas.


Kolaborasi
p. Konsul dengan ahli terapi fisik/okupasi dan/atau rehabilitasi spesialis.
q. Lakukan program defekasi (pelunak feses, enema, laksatif) sesuai indikasi.
r. Rujuk ke perawat spesialis psikiatrik klinikal/ahli terapi sesuai indikasi.
4). Rasional
a. Pasien mungkin dibatasi oleh pandangan diri/persepsi diri tentang keterbatasan fisik actual, memerlukan informasi/intervensi untuk meningkatkan kemajuan kesehatan.
b. Memberikan kesempatan untuk mengeluarkan energi, memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan rasa control diri/harga diri, dan membantu menurunkan isolasi sosial.
c. Meningkatkan aliran darah ke otot dan tulang untuk meningkatkan tonus otot, mempertahankan gerak sendi, mencegah kontraktur/atrofi, dan resorpsi kalsium karena tidak digunakan.
d. Kontraksi otot isometric tanpa menekuk sendi atau menggerakkan tungkai dan membantu mempertahankan kekuatan dan masa otot. Catatan: Latihan ini dikontraindikasikan pada perdarahan akut/edema.
e. Berguna dalam mempertahankan posisi fungsional ekstremitas, tangan/kaki, dan mencegah komplikasi (contoh kontraktur/kaki jatuh).
f. Menurunkan risiko kontraktur fleksi panggul.
g. Memudahkan gerakan selama hygiene/perawatan kulit, dan penggantian linen; menurunkan ketidaknyamanan dengan tetap datar ditempat tidur. “Pasca-posisi” melibatkan penempatan kaki yang tak sakit datar di tempat tidur dengan lutut menekuk sementara menggenggam trapeze dan mengangkat tubuh dari tempat tidur.
h. Meningkatkan kekuatan otot dan sirkulasi, meningkatkan control pasien dalam situasi, dan meningkatkan kesehatan diri langsung.
i. Mobilisasi dini menurunkan komplikasi tirah baring (contoh, flebitis) dan meningkatkan penyembuhan dan normalisasi fungsi organ. Belajar memperbaiki cara menggunakan alat penting untuk mempertahankan mobilisasi optimal dan keamanan pasien.
j. Hipotensi postural adalah masalah umum menyertai tirah baring lama dan dapat memerlukan intervensi khusus (contoh kemiringan meja dengan peninggian secara bertahap sampai posisi tegak).
k. Mencegah/menurunkan insiden komplikasi kulit/pernafasan (contoh dekubitus, atelektasis, pneumonia).
l. Tirah baring, penggunaan analgesic, dan perubahan dalam kebiasaan diet dapat memperlambat peristaltic dan menghasilkan konstipasi.Tindakan keperawatan yang memudahkan eliminasi dapat mencegah/membatasi komplikasi. Bedpan fraktur membatasi fleksi panggul dan mengurangi tekanan lumbal/gips ekstermitas bawah.
m. Mempertahankan hidrasi tubuh, menurunkan risiko infeksi urinarius, pembentukan batu, dan konstipasi.
n. Pada adanya cedera muskuloskeletas, nutrisi yang diperlakukan untuk penyembuhan berkurang dengan cepat, sering mengakibatkan penurunan berat badan sebanyak 20-30 pon selama traksi tulang. Ini dapat mempengaruhi massa oto, tonus, dan kekuatan. Catatan: Makanan protein meningkat kandungannya pada usus halus. Mengakibatkan pembentukan gas dan konstipasi, sehingga fungsi GI harus secara penuh membaik sebelum makanan berprotein meningkat.
o. Penambahan bulk pada feses membantu mencegah konstipasi. Makanan pembentuk gas dapat menyebabkan distensi abdominal, khususnya pada adanya penurunan motilitas usus.
p. Berguna dalam membuat aktivitas individual/program latihan. Pasien dapat memerlukan bantuan jangka panjang dengan gerakan, kekuatan, dan aktifitas, yang mengandalkan berat badan, juga penggunaan alat, contoh walker, kruk, tongkat, meninggikan tempat duduk ditoilet, tongkat pengambil/penggapai, khususnya alat makan.
q. Dilakukan untuk meningkatkan evakuasi usus.
r. Pasien/orang terdekat memerlukan tindakan intensif lebih untuk menerima kenyataan kondisi/prognosis, imobilisasi lama, mengalami kehilangan control.

f. Integritas Kulit/Jaringan, Kerusakan: Aktual/Risiko Tinggi Terhadap
1). Diagnosa
Dapat dihubungkan dengan : Cedera tusuk, fraktur terbuka, bedah perbaikan, pemasangan traksi pen, kawat, sekrup. Perubahan sensasi, sirkulasi, akumulasi ekskresi/secret. Imobilisasi fisik.
Kemungkinan dibuktikan oleh : Keluhan gatal, nyerim, kebas, tekanan pada area yang sakit/area sekitar. Gangguan permukaan kulit, invasi struktur tubuh, destruksi lapisan kulit/jaringan.



2). Tujuan
Menyatakan ketidaknyamanan hilang.
Menunjukkan perilaku/teknik untuk mencegah kerusakan kulit/memudahkan penyembuhan sesuai indikasi.
Mencapai penyembuhan luka sesuai waktu/penyembuhan lesi terjadi.
3). Tindakan/Intervensi
Mandiri
a. Kaji kulit untuk luka terbuka, benda asing, kemerahan, perdarahan, perubahan warna, kelabu, memutih.
b. Messase kulit dan penonjolan tulang. Pertahankan tempat tidur kering dan bebas kerutan. Tempatkan bantalan air/bantalan lain bawah siku/tumit sesuai indikasi.
c. Ubah posisi dengan sering. Dorong penggunaan trapeze bila mungkin.
d. Penggunaan gips dan perawatan kulit:
1. Bersihkan kulit dengan sabun dan air. Gosok perlahan dengan alcohol; dan/atau bedak dengan jumlah sedikit borat atau stearat seng.
2. Potong pakaian dalam yang menutup area dan perlebar beberapa inci diatas gips.
3. Gunakan telapak tangan untuk memasang, pertahankan atau lepaskan gips, dan dukung bantal setelah pemasangan.
4. Potong kelebihan plester dari akhir gips sesegera mungkin saat gips lengkap;
5. Tingkatkan pengeringan gips dengan mengangkat linen tempat tidur, memajankan pada sirkulasi udara.
6. Observasi untuk potensial area yang tertekan, khususnya pada akhir dan bawah bebatan/gips.
7. Beri bantalan (petal) pada akhir gips dengan plester tahanan air.
8. Bersihkan kelebihan plester dari kulit saat masih basah, bila mungkin.
9. Lindungi gips dan kulit pada area perineal. Berikan perawatan sering.
10. Instruksikan pasien/orang terdekat untuk menghindari memasukkan objek kedalam gips.
11. Masase kulit sekitar akhir gips dengan alcohol.
12. Balik pasien dengan sering untuk melibatkan sisi yang tak sakit dan posisi tengkurap dengan kaki pasien diatas kasur
e. Traksi kulit dan perawatan kulit:
1. Bersihkan kulit dengan air sabun hangat.
2. Berikan tintur bezoin.
3. Gunakan plester traksi kulit (buat beberapa strip moleskin/plester perekat) memanjang pada sisi tungkai yang sakit.
4. Lebarkan plester sepanjang tungkai.
5. Tandai garis dimana plester keluar sepanjang ekstremitas.
6. Letakkan bantalan pelindung tulang dibawah kaki dan diatas tonjolan tulang.
7. Balut lingkar tungkai, termasuk plester dan bantalan, dengan verban elastic, hati-hati untuk membalut dengan rapat tetapi tidak terlalu ketat.
8. Palpasi jaringan yang diplester tiap hari dan catat adanya nyeri tekan atau nyeri.
9. Lepaskan traksi kulit tiap 24 jam, sesuai protocol, inspeksi dan berikan perawatan kulit.

f. Traksi tulang dan perawatan kulit:
1. Tekuk ujung kawat atau tutup ujung kawat/pen dengan karet atau gabus pelindung/tutup jarum.
2. Beri bantalan/pelindung dari kulit domba, busa.
Kolaborasi
g. Gunakan tempat tidur busa, bulu domba, bantal apung, atau kasur udara sesuai indikasi.
h. Buat gips dengan katup tunggal, katup ganda atau jendela, sesuai protocol.
4). Rasional
a. Memberikan informasi tentang sirkulasi kulit dan masalah yang mungkin disebabkan oleh alat dan/atau pemasangan gips/bebat atau traksi, atau pembentukan edema yang membutuhkan intervensi medik lanjut.
b. Menurunkan tekanan pada area yang peka dan risiko abrasi/kerusakan kulit.
c. Mengurangi tekanan konstan pada area yang sama dan meminimalkan risiko kerusakan kulit. Penggunaan trapeze dapat menurunkan abrasi pada siku/tumit.
d. Posisi yang tepat dapat menyebabkan cedera kulit/kerusakan.
e. Memberikan gips tetap kering dan area bersih. Catatan: Terlalu banyak bedak dapat membuat lengket bila kontak dengan air/keringat.
f. Berguna untuk bantalan tonjolan tulang, mengakhiri akhir gips, dan melindungi kulit.
g. Mencegah pelekuan/pendataran diatas tonjolan tulang dan area menyokong berat badan (contoh, punggung tumit), yang akan menyebabkan abrasi/trauma jaringan. Bentuk yang tak tepat atau gips kering mengiritasi pada kulit dibawahnya dan dapat menimbulkan gangguan sirkulasi.
h. Plester yang lebih dapat mengiritasi kulit dan dapat mengakibatkan abrasi.
i. Mencegah kerusakan kulit yang disebabkan oleh tertutup pada kelembaban dibawah gips dalam jangka lama.
j. Tekanan dapat menyebabkan ulserasi, nekrosis, dan/atau kelumpuhan saraf. Masalah ini mungkin tidak nyeri bila terjadi kerusakan saraf.
k. Memberikan perlindungan efektif pada lapisan gips dan kelembaban. Membantu mencegah kerusakan material gips pada akhir dan menurunkan iritasi kulit/ekskoriasi.
l. Plester yang kering dapat melekat ke dalam gips yang telah lengkap dan menyebabkan kerusakan kulit.
m. Mencegah kerusakan jaringan dan infeksi oleh kontaminasi fekal.
n. “Sakit gesekan” dapat menyebabkan cedera jaringan.
o. Mempunyai efek pengering, yang menguatkan kulit. Krim dan losion tidak dianjurkan karena terlalu banyak minyak dapat menutup perimeter gips, tidak memungkinkan gips untuk “bernafas”. Bedak tidak dianjurkan karena potensial akumulasi berlebihan di dalam gips.
p. Meminimalkan tekanan pada kaki dan sekitar tepi gips.
q. Menurunkan kadar kontaminasi kulit.
r. “Kekuatan” kulit untuk penggunaan traksi kulit.
s. Plester traksi melingkari tungkai dapat mempengaruhi sirkulasi.
t. Traksi dimasukan dalam garis dengan akhir plester yang bebas.
u. Memungkinkan untuk pengkajian cepat terhadap benda yang terselip.
v. Meminimalkan tekanan pada area ini.
w. Memberikan tarikan traksi yang tepat tanpa mempengaruhi sirkulasi.
x. Bila area di bawah plester nyeri tekan, diduga ada iritasi kulit dan siapkan untuk membuka system balutan.
y. Mempertahankan integritas kulit.
z. Mencegah cedera pada bagian tubuh lain.
aa. Mencegah tekanan berlebihan pada kulit meningkatkan evaporasi kelembaban yang menurunkan risiko ekskoriasi.
bb. Karena imobilisasi bagian tubuh, tonjolan tulang lebih dari area yang sakit oleh gips mungkin sakit karena penurunan sirkulasi.
cc. Memungkinkan pengurangan tekanan dan memberikan akses untuk perawatan luka/kulit.

g. Infeksi, Risiko Tinggi Terhadap
1). Diagnosa
Faktor risiko meliputi : Tak adekuatnya pertahanan primer, kerusakan kulit, trauma jaringan, terpajang pada lingkungan. Prosedur invasive, traksi tulang.
Kemungkinan dibuktikan oleh : (Tidak dapat diterapkan adanya tanda dan gejala membuat diagnosa actual).
2). Tujuan
Mencapai penyembuhan luka sesuai waktu, bebas drainase purulen atau eritema, dan demam.
3). Tindakan/Intervensi
Mandiri
a. Inspeksi kulit untuk adanya iritasi atau robekan kontinuitas.
b. Kaji sisi pen/kulit perhatikan keluhan peningkatan nyeri/rasa terbakar atau adanya edema, eritema, drainase/bau tak enak.
c. Berikan perawatan pen/kawat steril sesuai protocol dan latihan mencuci tangan.
d. Intruksikan pasien untuk tidak menyebutkan sisi inseri.
e. Tutupi pada akhir gips peritoneal dengan plastik.
f. Observasi luka untuk pembentukan bula, krepitasi, warna kulit kecoklatan, bau drainase yang tak enak/asam.
g. Kaji tonus otot, refleks tendon dalam dan kemampuan untuk berbicara.
h. Selidiki nyeri tiba-tiba/keterbatasan gerakan dengan edema local/eritema ekstremitas cedera.
i. Lakukan prosedur isolasi.
Kolaborasi
j. Awasi pemeriksaan laboratorium, contoh:
Hitung darah lengkap;
LED;
Kultur dan sensitivitas luka/serum/tulang;
Skan radioisotope.
k. Berikan obat sesuai indikasi, contoh:
Antibiotik IV/topical.
Tetanus toksoid.
l. Berikan irigasi luka/tulang dan berikan sabun basah/hangat sesuai indikasi.
m. Bantu prosedur contoh insisi/drainase, pemasangan drain, terapi O2 hiperbarik.
n. Siapkan pembedahan sesuai indikasi.
4). Rasional
a. Pen atau kawat tidak harus dimasukkan melalui kulit yang terinfeksi, kemerahab, atau abrasi (dapat menimbulkan infeksi tulang).
b. Dapat mengindikasikan timbulnya infeksi local/nekrosis jaringan, yang dapat menimbulkan osteomielitis.
c. Dapat mencegah kontaminasi silang dan kemungkinan infeksi.
d. Meminimalkan kesempatan untuk kontaminasi.
e. Gips yang lembab, padat meningkatkan pertumbuhan bakteri.
f. Tanda perkiraan infeksi gas gangrene.
g. Kekakuan otot, spasme tonik otot rahang, dan disfagia menunjukkan terjadinya tetanus.
h. Dapat mengindikasikan terjadinya osteomielitis.
i. Adanya drainase purulen akan memerlukan kewaspadaan luka/linen untuk mencegah kontaminasi silang.
j. Anemia dapat terjadi pada osteomielitis, leukositosis biasanya ada dengan proses infeksi.
k. Peningkatan pada osteomielitis.
l. Mengindentifikasi organisme infeksi.
m. Titik panas menunjukkan peningkatan area vaskularitas, menunjukkan osteomielitis.
n. Antibiotik spectrum luas dapat digunakan secara profilaktik atau dapat ditujukan pada mikroorganisme khusus.
o. Diberikan secara profilaktik karena memungkinkan adanya tetanus pada luka terbuka. Catatan: Risiko peningkatan bila cedera/luka terjadi dalam “lapangan kondisi” (area luar/jauh).
p. Debridemen local/pembersihan luka menurunkan mikroorganisme dan insiden infeksi sistemik. Antimikrobial drip kontinu kedalam tulang diperlukan untuk mengatasi osteomielitis, khususnya bila suplai darah ke tulang terganggu.
q. Banyak prosedur dilakukan pada pengobatan infeksi local, osteomielities, gangrene gas.
r. Sequestrektomi (pengangkatan tulang nekrotik) perlu untuk membantu penyembuhan dan mencegah perluasan proses infeksi.

h. Kurang Pengetahuan (Kebutuhan Belajar) Tentang Kondisi, Prognosis, dan Kebutuhan Pengobatan.
1). Diagnosa
Dapat dihubungkan dengan : Kurang terpajan/mengingat. Salah interprestasi informasi/tidak mengenal sumber informasi.
Kemungkinan dibuktikan oleh : Pertanyaan/permintaan informasi, pernyataan salah konsepsi. Tidak akurat mengikuti instruksi/terjadinya komplikasi yang dapat dicegah.
2). Tujuan
Menyatakan pemahaman kondisi, prognosis, dan pengobatan.
Melakukan dengan benar prosedur yang diperlukan dan menjelaskan alasan tindakan.
3). Tindakan/Intervensi
Mandiri
a. Kaji ulang patologi, prognosis, dan harapan yang akan datang.
b. Beri penguatan metode mobilitas dan ambulasi sesuai instruksi dengan terapis fisik bila diindikasikan.
c. Anjurkan penggunaan back pack.
d. Buat daftar aktivitas dimana pasien dapat melakukannya secara mandiri dan yang memerlukan bantuan.
e. Identifikasi tersedianya sumber pelayanan di masyarakat, contoh tim rehabilitasi, pelayanan perawatan dirumah.
f. Dorong pasien untuk melanjutkan latihan aktif untuk sendi diatas dan dibawah fraktur.
g. Diskusikan pentingnya perjanjian evaluasi klinis.
h. Kaji ulang perawatan pen/luka yang tepat.
i. Identifikasi tanda-tanda dan gejala-gejala yang memerlukan evaluasi medik, contoh nyeri berat, demam/menggigil, bau tak enak, perubahan sensasi, pembengkakan, paralisitis, ibu jari atau ujung jari putih/dingin, titik hangat, area lunak, gips retak.
j. Diskusikan perawatan gips yang “hijau” atau basah.
k. Anjurkan penggunaan pengering rambut untuk mengeringkan area yang lembab.
l. Demonstrasikan penggunaan kantung plastik untuk menutup plester gips selama cuaca lembab atau saat mandi. Gips bersih dengan pakaian agak lembab dan bedak penggosok.
m. Anjurkan penggunaan pakaian yang adaptif.
n. Anjurkan cara-cara untuk menutup ibu jari kaki, bila tepat, contoh sarung tangan atau kaus kaki halus.
o. Diskusikan instruksi pasca pengangkatan gips:
1. Instruksikan pasien untuk melanjutkan latihan sesuai izin;
2. Informasikan pasien bahwa kulit dibawah gips secara umum lembab dan tertutup dengan kalus atau serpihan kulit yang mati.
3. Cucu kulit dengan perlahan dengan sabun, providon iodine (Betadin) atau pHisoHex dan air. Minyaki dengan minyak pelindung.
4. Informasikan pasien bahwa otot dapat tampak lembek atau atrofi (massa otot kurang). Anjurkan untuk memberi sokongan pada sendi diatas dan dibawah bagian yang sakit dan gunakan alat bantu mobilitas, contoh verban elastic, bebat, penahan, kruk, walker, atau tongkat.
5. Tinggikan ekstremitas sesuai kebutuhan.

4). Rasional
a. Memberikan dasar pengetahuan dimana pasien dapat membuat piliha informasi. Catatan: Fiksasi internal dapat mempengaruhi kekuatan tulang dan intermedula, kuku/akar atau piringan mungkin diangkat beberapa hari kemudian.
b. Banyak fraktur memerlukan gips, bebat, atau penjepit selama proses penyembuhan dapat terjadi sekunder terhadap ketidaktepatan penggunaan alat ambulasi.
c. Memberikan tempat untuk membawa artikel tertentu dan membiarkan tangan bebas untuk memanipulasi kruk atau dapat mencegah kelelahan otot yang takperlu bila satu tangan digips.
d. Penyusunan aktivitas sekitar kebutuhan dan yang memerlukan bantuan.
e. Memberikan bantuan untuk memudahkan perawatan diei dan mendukung kemandirian. Meningkatkan perawatan diri optimal dan pemulihan.
f. Mencegah kekakuan sendi, kontraktur, dan kelelahan otot, meningkatkan kembalinya aktivitas sehari-hari secara dini.
g. Penyembuhan fraktur memerlukan waktu tahunan untuk sembuh lengkap, dan kerjasama pasien dalam program pengobatan membantu untuk penyatuan yang tepat dari tulang.
h. Menurunkan risiko trauma tulang/jaringan dan infeksi yang dapat berlanjut menjadi osteomilitis.
i. Intervensi cepat dapat menurunkan beratnya komplikasi seperti infeksi/gangguan sirkulasi. Catatan: Beberapa kulit yang menjadi gelap dapat terjadi secara normal bila berjalan pada ekstremitas yang digips atau menggunakan tangan yang digips; ini harus membaik dengan istirahat dan peninggian.
j. Meningkatkan pengobatan tepat untuk mencegah deformitas gips dan iritasi kulit/kesalahan postur. Catatan: Pemasangan gips “dingin” langsung pada bantal karet atau plastik menjebak panas dan meningkatkan waktu pengeringan.
k. Penggunaan yang hati-hati dapat mempercepat pengeringan.
l. Melindungi dari kelembaban, yang melunakkan plester gips dan melemahkan gips. Catatan: Gips serat kaca digunakan lebih sering karena bahan ini tidak dipengaruhi oleh kelembaban. Selain itu beratnya ringan dapat meningkatkan partisipasi pasien dalam aktifitas yang diinginkan.
m. Membantu aktivitas berpakaian/kerapihan.
n. Membantu mempertahankan kehangatan/melindungi dari cedera.
o. Menurunkan kekakuan dan memperbaiki kekuatan dan fungsi ekstremitas yang sakit.
p. Ini akan memerlukan waktu berminggu-minggu sebelum kembali ke penampilan normal.
q. Kulit yang baru secara ekstrem nyeri tekan karena telah dilindungi oleh gips.
r. Kekuatan otot akan menurun dan rasa sakit yang baru dan nyeri sementara sekunder terhadap kehilangan dukungan.
s. Pembengkakan dan edema cenderung terjadi setelah pengangkatan gips.






3. Inflementasi
Pelaksanaan dari intervensi/tindakan yang telah dibuat. Intervensi yang dibuat digunakan untuk membantu klien mendapatkan posisi terbaik selama proses penyembuhan.

4. Evaluasi
a. Fraktur stabil
b. Nyeri terkontrol
c. Konflikasi dicegah/minimal
d. Kondisi, prognosis, Program terapi dipahami.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar